Tags
11:00 p.m. , 20 Desember 2011
Setelah melewati banyak kejadian yang cukup panjang dan memilukan, akhirnya hari ini saya kembali ke hadapan blog saya. Awalnya bingung ingin menulis apa, entah bercerita atau hanya menulis tanpa tujuan. Pilihan kedua sepertinya sangat tepat bagi saya sekarang.
11:05 p.m. , 20 Desember 2011
Hari masih sama, tidak ada yang berubah. Hanya ada segelintir kata yang muncul di layar laptop ini. Saya pun masih sama, mengenakan jaket itu, kemeja merah itu, celana biru gelap jeans itu dan masih duduk di kursi yang sama, menghadap layar yang sama di ruangan yang sama. Mereka masih bernyanyi dengan sumbangnya di depan pintu itu, seolah tak ada lagi manusia, dunia milik mereka. Bulan pun masih pucat, kesepian tanpa hadirnya sang bintang disisinya.
11:08 p.m. , 20 Desember 2011
Saya masih terdiam, berpikir, dan mengetik. Tiada tujuan, tak pernah ada. Semua masih sama, terasa pahit dan hambar. Tidak ada yang jelas, semua buram, diiringi dengan cahaya remang dari sang rembulan.
11:12 p.m. , 20 Desember 2011
Mendadak semua menjadi hening. Tak ada suara lagi selain suara saya mengetik tulisan ini. Betul-betul hening, terlalu hening, tak ada suara, tak ada angin bertiup, semua sangatlah … diam … . Satu menit hening itu bertahan.
11:13 p.m. , 20 Desember 2011
Perlahan suara itu mulai kembali. Satu per satu kembali menusuk telinga kembali memenuhi telinga. Suara derik pintu itu, nyanyian sumbang itu, lalu lalang kendaraan, dan semuanya. Untuk sesaat akulah yang terdiam. Menatapi semua bunyi itu dan memandang bunyi itu seolah mereka terlihat. Mungkin aku buta, dan hanya melihat dari telinga. Mungkin juga aku tuli, mendengar dari apa yang ku lihat.
11:17 p.m. , 20 Desember 2011
Akhirnya saya mulai sadar. Akhirnya saya menemukan bahtera itu. Bahtera yang akan mengantarkan saya kepada waktu itu. Menyusuri pantai waktu menuju pulau itu.
11:19 p.m. , 20 Desember 2011
Oh rembulan, mengapa engkau begitu pucat? Mengapa engkau begitu sedih? Mengapa engkau begitu diam? Terlalu banyak bertanyakah aku? Bicaralah, kemari dan ceritakanlah.
11:23 p.m. , 20 Desember 2011
Wahai hati, mengapa engkau tahu segalanya? Mengapa engkau sering bertengkar dengan logika dan kepala? Mengapa engkau terus berteriak di saat aku terus berjalan di lembah itu, seolah hidupku hancur seutuhnya? Oh hati, tak tahan lagi ku dengar teriakanmu membahana memenuhi telinga jiwaku. Hentikanlah, hentikan teriakanmu, hentikan tangismu, bicaralah dan katakan salahku.
11:25 p.m. , 20 Desember 2011
Segalanya rasanya begitu tenang kembali. Hanya dalam 30 menit banyak yang tercurah. Dan saya pun kembali menyudahi segalanya. Oh cahaya rembulan, sampaikan salamku pada senja dan titipkan anganku padanya. Oh hati, kemarilah dan mari kita berbincang-bincang.
11:30 p.m. , 20 December 2011
Finishing, publish.