Aku mencintai malam. Aku memujanya dan mengaguminya. Aku selalu suka akan malam. Tetapi, malam tidaklah mencintaiku. Mengenalku pun tidak.
Malam seolah menjadi acuan bagi peradaban untuk bercermin. Malam, ia menunjukkan kebesaran Tuhan yang tiada bertepi sekaligus menampilkan karya-karya nyata nan indah dari peradaban manusia.
Segala warna hasil karya kemegahan arsitektur dan setiap lekuk yang dicipta manusia berpadu dengan setiap titik cahaya lampu dan langit malam, seolah sempurna. Semua seakan karya duet manusia dan Tuhan. Karya-karya bisu yang seolah ingin bicara, mengatakan bahwa mereka seolah merupakan hasil dari suatu perikemanusiaan, sekalipun mereka buta.
Dari biru ke hitam, dari terang ke gelap, dari terbitnya sang surya sampai tenggelamnya. Dan kita temukan malam. Ketika langit penuh bintang dan bulan menunjukkan batang hidungnya, aku menyampaikan harapan. Dalam sunyi aku berkeluh, dalam gelap aku berkesah. Di malam yang dingin, aku merasa.
Itulah malam. Saat pertemuan memberi bahagia. Saat syukur terucap. Saat tatapan mata penuh cinta. Saat hati berpasrah. Saat insan rindu akan hadirnya embun. Saat keajaiban dan fantasi berpadu menjadi satu membuahkan buah-buah malam, impian dan harapan. Ya, itulah malam.