Dengan sombongnya pagi berkata, “Siapa yang tidak mengenal aku?”. Itulah pagi yang selalu ku hadapi, pagi ku yang sombong. Pagi memang mengenal aku, tapi aku dan pagi tidaklah akur.

Itulah pagi. Sesuatu yang memperlihatkan betapa rendahnya seorang manusia setinggi apapun dia merasa. Sesuatu yang menunjukkan kebesaran Sang Kuasa secara rinci dan menyeluruh. Sesuatu yang seolah menjadi awal dari segala karya besar manusia.

Tiada yang lebih indah dan alami dari warna sebuah pagi. Seolah langit dan bumi menjadi satu dalam satu kanvas kehidupan dan setiap warna tercurah dengan kuas-kuas kebesaran Sang Pelukis yang tidak pernah bisa disaingi oleh satu pun pelukis yang ada di dunia. Inilah titik balik kita, ketika kita hanya bisa bungkam dan terpana melihat karya agung yang tidak pernah bisa dijadikan suatu karya bagi manusia. Karya yang berbicara, membunyikan setiap lonceng kesombongan pagi itu sendiri.

Dari hitam ke biru, dari gelap ke terang, dari terbitnya sang rembulan sampai menghilangnya rembulan. Ia berkata, “Panggil aku Pagi”. Udara segar yang menghampiri ventilasi tubuh yang fana ini dan cahaya lembut yang menyiratkan kemenangan di jendela tubuh ini, saat itulah aku bersimpuh dan mengucap syukur serta keluh kesah. Ingin hidup di satu sisi ingin mati. Di pagi yang hangat, aku tersenyum ambigu.

Saat bagi kita berkata, “Inilah hari baru”. Akhir sebuah pertemuan seru dan awal pertemuan lainnya. Saat harapan menggelora. Iblis dan Malaikat berperang demi memenangkan hati. Saat mimpi dan kenyataan bersatu mencipta satu simfoni hidup yang baru. Dan ya kita pun menurut pada kesombongannya, karena kita rendah dan lemah. Kita pun berkata, “Selamat Pagi”

Advertisement