Aku selalu ingat akan waktu itu. Ketika pertama kali berkenalan dengan Siang. Aku tidak pernah sadar selama ini selalu bertemu di tempat yang sama, di waktu yang sama, sampai hari itu aku berkenalan dengannya.

Ketika aku berjabat tangan dengannya, aku merasa dia itu unik. Ya, namanya Siang. Dia bukanlah awal dan bukanlah akhir. Dia selalu dicela dan dilupakan. Kadang rupanya ada berbagai macam, memang kebanyakan menyebalkan, dan dia selalu berdalih bahwa itu adalah kesalahan setiap manusia yang tak mungkin tak pernah bertemu dengannya.

Seperti dirinya sendiri, aku menemukan hampir tidak ada kesombongan satu sama lain, seolah sebuah fase di mana hanya ada sama rata dan sama rasa. Menatapnya, membuatku sadar akan asimilasi yang terjadi antara aku dan Sang Kuasa setiap kali aku bertemu dengannya. Aku merasa rendah dan aku merasa tinggi. Aku menggapainya dan aku merasa bahkan jariku menyentuhnya pun tidak.

Kala itu, ketika aku berkenalan dengannya, Terang dan Gelap kembali beradu. Semua menampilkan kenyataan peradaban yang penuh warna melimpah. Aku merasa dingin dan panas, semua terasa kering dan seolah tenggelam di lautan luas. Aku melihat cikal bakal dan karya-karya. Aku melihat semua masih memiliki mata dan semua masih bisa berbicara, dan aku melihat mata yang akhirnya dicungkil serta mulut yang akhirnya dibungkam.

Ketika aku melihat lebih jauh dalam sebuah jabat tangan, aku mendengar sumpah serapah serta tawa canda. Aku melihat tangis manis dan senyum pahit tergeletak di jalanan bagaikan kerikil kecil yang tak pernah dipandang dan hanya ditendang. Aku merasa hampa dan penuh, memiliki dan kehilangan.

Itulah dia, Siang. Saat semua masih tiada dan sudah ada. Ketika kertas putih masih putih dan kertas putih telah menjadi hitam. Dan aku menemukan aku. Lalu kukecup keningnya, merasakan fantasi yang akan tercipta. Mendengar melodi kuno yang mengalir lembut hingga ke nadiku.

Advertisement