Sejujurnya, artikel ini sudah selesai ditulis semenjak hampir seminggu yang lalu. Ada beberapa hal yang mengganjal di hati mengenai isi dari artikel ini. Sejak ditulis sampai saat ini, ketika saya memberikan tambahan-tambahan dan revisi-revisi pada artikel ini, saya terus menerus berpikir dan berpikir mengenai kata demi kata yang saya ketik di sini. Ya, artikel ini memang berjudul ‘Secangkir Kopi’, tetapi artikel ini tidak menceritakan tentang kopi dalam arti harfiahnya.
Saya memang seorang peminum kopi. Saya suka dengan kopi dan umumnya cocok dengan segala macam kopi dan bentuk penyajiannya. Saya bahkan kadang tidak ragu untuk mengeluarkan sejumlah uang demi mencicipi secangkir kopi saja. Kadang ada yang bertanya, “Apa bedanya sama kopi dua ribuan?”. Memang ketika kita minum kopi rasanya mau bagaimanapun adalah rasa kopi, tapi di balik semua itu ada perbedaan antara satu kopi dengan yang lainnya.
Umumnya yang kita kenal adalah warna kopi yang diseduh itu hitam. Warna dari setiap kopi itu tentu saja hitam. Seperti kopi-kopi itu, hidup kita pun demikian. Bila kita memperhatikan, hidup kita masing-masing memiliki warna yang sama. Dari penampilan luar, kita sama saja dengan yang lainnya. Apapun bijinya, setua apa biji kopinya, atau faktor-faktor lain, tetap saja kopi itu akan berwarna hitam bila diseduh. Seperti hidup ini, apapun latar belakangnya, siapapun diri kita, apapun profesinya, sepanjang apapun umurnya, kita tidaklah berbeda satu dengan yang lainnya, kita sama-sama hidup.
Dari setiap kopi yang kita minum, kita bisa menilai sendiri kualitas kopi itu seperti apa. Kita tahu mana biji kopi yang bagus mana biji kopi yang buruk. Caranya adalah dengan meminumnya. Kita harus merasakan sendiri rasa kopi itu baru kita menilai kualitas biji kopi itu. Seperti kopi, hidup kita pun demikian. Kita tak pernah tahu akan masa depan. Kita tak pernah tahu akan seperti rasa dari hidup ini bila kita tidak pernah mencobanya. Mungkin dari aromanya kita mengatakan bahwa kopi ini bagus, kopi itu tidak. Tetapi, ketika kopi itu sampai di lidah kita, dugaan kita bisa saja salah. Hidup kita pun demikian, mungkin kita bisa meraba-raba masa depan kita, atau memilih sesuatu yang mempengaruhi hidup kita. Mungkin kelihatannya enak, namun bisa saja tidak seperti yang kita harapkan.
Hal yang berbeda dari setiap peminum kopi itu adalah cara mereka masing-masing meminum kopi itu. Ada yang lebih suka mendiamkan kopi agar dingin dulu, ada yang suka meminum kopi selagi panas, ada yang suka meminum kopi itu sekaligus, ada yang suka meminum sedikit demi sedikit. Hidup kita pun tak jauh berbeda dari cara-cara meminum kopi itu. Ada yang suka menunda-nunda, ada yang suka terburu-terburu, ada yang suka menikmati perlahan-perlahan, ada yang suka menikmati sekaligus, dan ada banyak cara lainnya.
Umumnya, bila kita sudah menyukai satu jenis kopi tertentu, kita akan memilih untuk meminum jenis kopi itu di kesempatan lainnya dan kadang agak enggan untuk mencoba biji kopi lainnya. Mirip pula dengan hidup kita. Dalam banyak waktu kita sering meringkuk dalam zona nyaman kita. Seperti halnya dalam meminum kopi ketika kita merasa takut untuk tidak puas atau membuang-buang uang untuk kopi yang tidak pernah kita coba, dalam hidup pun demikian, Kadang kala kita tidak berani untuk mencoba sesuatu yang baru dan hanya memilih hal yang sama sepanjang hidup.
Mendapat secangkir kopi yang kita inginkan mungkin belum cukup bagi sebagian orang. Mereka memilih untuk menambahkan sesuatu di kopi mereka. Entah itu susu, gula, karamel, atau apa pun itu. Tujuannya adalah untuk menjadikan rasa kopi itu lebih nikmat dan lebih mudah dicicip lidah kita. Inilah yang seringkali kita lakukan. Menambahkan sesuatu dalam hidup kita agar kita bisa menjalaninya dengan lebih nikmat dan lebih mudah tentunya. Namun, kadang kala kita terlalu banyak menambahkan sesuatu dalam secangkir kopi itu sehingga rasanya menjadi aneh dan cita rasa sesungguhnya menjadi hilang. Hidup pun demikian, terlalu banyak menambahkan sesuatu dalam hidup ini kadang bisa menyebabkan kita kehilangan arah dan jati diri, hidup pun terasa tidak nyaman untuk dinikmati.
Dari semua hal tentang kopi, yang paling unik adalah alat-alat yang digunakan dalam proses pembuatan kopi itu dan alat-alat penyajiannya. Mari kita fokus ke alat-alat penyajiannya terutama cangkir. Mungkin kisah ini adalah sebuah kisah klasik. Bagi peminum kopi, jenis cangkir dan bentuknya bisa mengubah banyak hal. Namun, sebagus apapun cangkirnya, bila kita tidak cocok untuk meminum jenis kopi itu, kita tetap tidak cocok untuk meminum kopi itu. Cangkir tidak akan mengubah rasa, tetapi cangkir bisa mengubah cara pandang kita. Mirip juga dengan hidup kita. Hanya karena kemasannya bagus dan terlihat menjanjikan, kita cenderung memilih cangkir itu sekalipun harus merasakan kopi yang memang kita anggap tidak enak.
Untuk beberapa orang yang memang tahu betul akan kondisi saya saat ini mungkin akan menyadari maksud dari kalimat-kalimat pembuka yang saya pilih untuk memulai artikel ini. Fakta adalah fakta. Saya memang sedikit menjaga setiap kata demi kata di artikel ini.
Hidup itu ibarat secangkir kopi.
Dedicated to my cousin.