Tags

,

Pernahkah kita berpikir bahwa dalam dunia yang amat teramat luas ini, kita hanya berdiri sendiri seolah tak ada lagi manusia di sekeliling kita? Perasaan sepi yang menjelma ke dalam kehidupan kita itu seolah tak pernah berhenti meneriakkan kesepian ke dalam setiap nadi kehidupan kita. Berada di antara dunia-dunia yang tak pasti dan seolah tak akan pernah pasti. Ketika hidup ini hanya diukur berdasarkan materi yang setelah hilang tak akan pernah kembali lagi. Atau ketika kita berada di dalam kegelapan dengan cahaya lampu di kejauhan dan ditemani oleh belaian angin dingin.

Pernahkah kita merasa bahwa begitu banyak manusia yang tinggal di dalam dunia ini dan berada di sekitar kita, hidup di dunia yang kecil dan sempit ini? Seolah kita semua memiliki suatu hubungan yang tak pernah kita ketahui pasti dan hanya kita percayai ada? Tinggal dalam kejamakan yang tidak menampilkan kejamakan itu sendiri. Bicara tentang kesemuan hidup ini. Ketika semua terasa baru dan tiada dari diri kita sendiri sesuatu yang lengkap. Ketika kita bahkan untuk bernafas pun merasa seolah tak pernah ada udara yang diciptakan di jagat raya yang sempit ini.

Hidup, hidup, dan hidup. Kehidupan itu adalah sesuatu yang sangat berhubungan erat dengan setiap insan di muka bumi ini. Setiap agama menjadi bagian didalamnya. Setiap filsuf menceritakannya. Setiap ilmu mengupas dan menjelaskan tentangnya. Setiap lagu menyanyikannya. Tidak ada satupun makhluk yang berdiri di muka bumi ini yang tidak pernah mencicipi kehidupan ini. Tetapi mengapa kehidupan ini seolah tidak pernah ada?

Hidup itu kadang begitu keras. Bahkan batu pun terasa lebih lunak dibandingkan hidup. Dalam dunia yang tak jelas ini, tak ada satu hal pun yang jelas dan dapat dimengerti. Semua begitu semu. Tidak ada lagi rintihan dan tangisan ketika hati bersedih. Tidak ada lagi gelak tawa dan senyum ketika hati bersuka. Dan tidak ada lagi manusia. Yang ada hanyalah beronggok-onggok daging tanpa jiwa yang menanti-nanti tibanya waktu ajalnya, walau sesungguhnya kematian sudah terlebih dahulu menyampaikan salamnya.

Wahai cahaya rembulan, betapa aku merindukanmu. Hidup begitu berbeda di tempat ini. Ketika nyawa sejajar dengan harta. Ketika emosi sejajar dengan kebenaran. Ketika dunia tidak lagi menyimpan bahkan setetes fakta. Biarlah aku mati dan lahir kembali, sebagai malam. Agar aku dapat selalu melihat cahayamu.

Advertisement