Hai semua! Kali ini saya ingin menulis artikel yang berhubungan dengan hobi-hobi yang saya tekuni. Mungkin bagi anda yang merupakan murid atau alumnus SMA Regina Pacis Bogor sudah sangat mengenal dengan ekstrakurikuler yang ‘katanya’ eksis ini. Yap, ekstrakurikuler ini bergerak di bidang paduan suara. Dan paduan suara telah menjadi salah satu minat dan hobi saya sejak masa-masa SMA.
Sejarah pasti mengenai paduan suara ini tidaklah saya ketahui. Tetapi, saya yakin bahwa paduan suara ini telah ada dalam kurun waktu yang cukup lama di SMA Regina Pacis Bogor. Biasanya, paduan suara ini mengisi bangku-bangku kosong yang disediakan di sebelah altar ketika perayaan ekaristi biasa ataupun perayaan ekaristi dalam rangka memperingati malam natal ataupun malam paskah yang diadakan di SMA Regina Pacis Bogor. Ekstrakurikuler ini mungkin menjadi terkenal karena banyaknya dispensasi dari pelajaran bagi anggota-anggotanya, biaya pendaftaran ekstrakurikuler yang paling murah, mungkin juga karena kualitasnya, atau sebagai tumbal pilihan ekstrakurikuler. Yang pasti, ekskul ini sangatlah unik.
Ketika saya pertama kali masuk SMA Regina Pacis Bogor dan melihat seluruh ekstrakurikuler yang ada, tidak pernah terpikirkan dalam benak saya bahwa saya akan memilih ekskul ini. Tetapi, entah merupakan suatu kecelakaan atau hasil dari pikiran pendek yang disertai dengan iming-iming tidak perlunya mengikuti pendalaman iman yang diadakan sekolah, saya akhirnya memilih ekskul ini. Sesungguhnya ketika bergabung, modal yang saya miliki hampir minim. Niat dan motivasi yang pas-pasan, suara yang tidaklah bagus, pengetahuan akan nada dan istilah-istilah serta simbol dalam musik sangatlah minim, rasa percaya diri yang ciut, dan buta not, itulah yang saya bawa untuk Viva Recis Swara saat itu.
Teringat ketika latihan pertama dahulu, melihat bahwa betapa luar biasanya jumlah murid yang ikut dari angkatan saya di dalam ekskul ini, saya saat itu menjadi semakin ciut. Betapa tidak, ruang serba guna di sekolah saya pun penuh dengan angkatan saya. Lagu pertama yang dilatih adalah “As The Deer”, dan saya berlatih bersama dengan anggota lainnya yang notabene belum begitu saya kenal. Sekalipun tiada rasa terasa di hati, tapi sepertinya sejak latihan pertama itulah saya mulai menyukai bidang ini. Kesukaan saya pada bidang ini sempat terbutakan karena diimingi oleh dispensasi untuk tugas pertama bagi angkatan saya. Dari kelas saya dahulu, kelas X-4, hanya ada satu murid yang mendapatkan dispensasi, sedangkan saya sangat tahu betul siapa saja anggota dari Viva Recis Swara di kelas saya. Setelah ditelusuri, ternyata memang dari sekelas hanyalah dia saja yang datang latihan hari Jum’at sebelumnya, dan saya mulai berpikir untuk rajin datang hanya karena dispensasi itu.
Ya, saya memang mendapatkan dispensasi untuk tugas pada perayaan ekaristi dalam rangka Hari Fransiskus di sekolah, dan saya mulai merasa bahwa dispensasi itu cukup menganggu pelajaran. Kali itu, kami yang bertugas memang butuh banyak latihan terutama karena adanya lagu “The Prayer of St Francis” yang saat itu menurut saya adalah lagu yang sangat sulit. Tetapi, sejak saat itulah saya menemukan kenyamanan dalam ekskul ini, tidak ada yang namanya senioritas dalam ekskul ini. Di sini, semua datang untuk bernyanyi bersama, memadu nada dan suara dalam satu alunan harmoni indah. Dan rasa nyaman yang timbul itu, adalah rasa nyaman yang sukai.
Waktu demi waktu pun berlalu, tugas malam natal yang memukau, lomba di Cassanova 2009 yang meraih peringkat pertama, tugas malam paskah yang meresap ke dalam jiwa, dan serangkaian tugas dan lomba lainnya. Semua itu berlalu dan menjadi memori indah dan unik untuk dikenang di lain waktu. Mengikuti latihan demi latihan, suara saya tetap pas-pasan, pengetahuan tetap minim, buta not masih tetap, namun niat dan motivasi telah berubah menjadi positif. Paduan suara ini memang tidak melihat kualitas suara, kemampuan dan pengetahuan semata, tetapi paduan suara ini terbuka untuk segala macam murid yang memiliki komitmen serta niat untuk latihan dan tugas. Di sini, kita belajar dan saling mengajar.
Tak terasa, menekuni Viva Recis Swara selama hampir 3 tahun, sekarang saya masih terngiang-ngiang ketika latihan pertama dimulai. Ketika lagu “As The Deer” dinyanyikan untuk pertama kali sepanjang saya menekuni Viva Recis Swara. Generasi baru telah bermunculan, dan mau tak mau saya harus pergi karena berakhirnya masa SMA saya, berakhir pula masa Viva Recis Swara saya. Sungguh, rasa syukur yang amat mendalam mendiami hati ini bisa bertemu dengan kawan-kawan baru di Viva Recis Swara dan bernyanyi bersama dengan suara-suara emas serta talenta-talenta yang luar biasa.
Banyak kisah yang tak diceritakan, banyak kenangan yang tak bagikan, biarlah semua itu terkubur dalam satu memori indah, untuk dikenang di hari esok.