Secangkir Kopi

Tags

, ,

Sejujurnya, artikel ini sudah selesai ditulis semenjak hampir seminggu yang lalu. Ada beberapa hal yang mengganjal di hati mengenai isi dari artikel ini. Sejak ditulis sampai saat ini, ketika saya memberikan tambahan-tambahan dan revisi-revisi pada artikel ini, saya terus menerus berpikir dan berpikir mengenai kata demi kata yang saya ketik di sini. Ya, artikel ini memang berjudul ‘Secangkir Kopi’, tetapi artikel ini tidak menceritakan tentang kopi dalam arti harfiahnya.

Continue reading »

Siang – Prosa Tentang Senandung

Aku selalu ingat akan waktu itu. Ketika pertama kali berkenalan dengan Siang. Aku tidak pernah sadar selama ini selalu bertemu di tempat yang sama, di waktu yang sama, sampai hari itu aku berkenalan dengannya.

Ketika aku berjabat tangan dengannya, aku merasa dia itu unik. Ya, namanya Siang. Dia bukanlah awal dan bukanlah akhir. Dia selalu dicela dan dilupakan. Kadang rupanya ada berbagai macam, memang kebanyakan menyebalkan, dan dia selalu berdalih bahwa itu adalah kesalahan setiap manusia yang tak mungkin tak pernah bertemu dengannya.

Seperti dirinya sendiri, aku menemukan hampir tidak ada kesombongan satu sama lain, seolah sebuah fase di mana hanya ada sama rata dan sama rasa. Menatapnya, membuatku sadar akan asimilasi yang terjadi antara aku dan Sang Kuasa setiap kali aku bertemu dengannya. Aku merasa rendah dan aku merasa tinggi. Aku menggapainya dan aku merasa bahkan jariku menyentuhnya pun tidak.

Kala itu, ketika aku berkenalan dengannya, Terang dan Gelap kembali beradu. Semua menampilkan kenyataan peradaban yang penuh warna melimpah. Aku merasa dingin dan panas, semua terasa kering dan seolah tenggelam di lautan luas. Aku melihat cikal bakal dan karya-karya. Aku melihat semua masih memiliki mata dan semua masih bisa berbicara, dan aku melihat mata yang akhirnya dicungkil serta mulut yang akhirnya dibungkam.

Ketika aku melihat lebih jauh dalam sebuah jabat tangan, aku mendengar sumpah serapah serta tawa canda. Aku melihat tangis manis dan senyum pahit tergeletak di jalanan bagaikan kerikil kecil yang tak pernah dipandang dan hanya ditendang. Aku merasa hampa dan penuh, memiliki dan kehilangan.

Itulah dia, Siang. Saat semua masih tiada dan sudah ada. Ketika kertas putih masih putih dan kertas putih telah menjadi hitam. Dan aku menemukan aku. Lalu kukecup keningnya, merasakan fantasi yang akan tercipta. Mendengar melodi kuno yang mengalir lembut hingga ke nadiku.

Pagi – Prosa Fajar

Dengan sombongnya pagi berkata, “Siapa yang tidak mengenal aku?”. Itulah pagi yang selalu ku hadapi, pagi ku yang sombong. Pagi memang mengenal aku, tapi aku dan pagi tidaklah akur.

Itulah pagi. Sesuatu yang memperlihatkan betapa rendahnya seorang manusia setinggi apapun dia merasa. Sesuatu yang menunjukkan kebesaran Sang Kuasa secara rinci dan menyeluruh. Sesuatu yang seolah menjadi awal dari segala karya besar manusia.

Tiada yang lebih indah dan alami dari warna sebuah pagi. Seolah langit dan bumi menjadi satu dalam satu kanvas kehidupan dan setiap warna tercurah dengan kuas-kuas kebesaran Sang Pelukis yang tidak pernah bisa disaingi oleh satu pun pelukis yang ada di dunia. Inilah titik balik kita, ketika kita hanya bisa bungkam dan terpana melihat karya agung yang tidak pernah bisa dijadikan suatu karya bagi manusia. Karya yang berbicara, membunyikan setiap lonceng kesombongan pagi itu sendiri.

Dari hitam ke biru, dari gelap ke terang, dari terbitnya sang rembulan sampai menghilangnya rembulan. Ia berkata, “Panggil aku Pagi”. Udara segar yang menghampiri ventilasi tubuh yang fana ini dan cahaya lembut yang menyiratkan kemenangan di jendela tubuh ini, saat itulah aku bersimpuh dan mengucap syukur serta keluh kesah. Ingin hidup di satu sisi ingin mati. Di pagi yang hangat, aku tersenyum ambigu.

Saat bagi kita berkata, “Inilah hari baru”. Akhir sebuah pertemuan seru dan awal pertemuan lainnya. Saat harapan menggelora. Iblis dan Malaikat berperang demi memenangkan hati. Saat mimpi dan kenyataan bersatu mencipta satu simfoni hidup yang baru. Dan ya kita pun menurut pada kesombongannya, karena kita rendah dan lemah. Kita pun berkata, “Selamat Pagi”

Malam – Prosa Sebuah Hari

Aku mencintai malam. Aku memujanya dan mengaguminya. Aku selalu suka akan malam. Tetapi, malam tidaklah mencintaiku. Mengenalku pun tidak.

Malam seolah menjadi acuan bagi peradaban untuk bercermin. Malam, ia menunjukkan kebesaran Tuhan yang tiada bertepi sekaligus menampilkan karya-karya nyata nan indah dari peradaban manusia.

Segala warna hasil karya kemegahan arsitektur dan setiap lekuk yang dicipta manusia berpadu dengan setiap titik cahaya lampu dan langit malam, seolah sempurna. Semua seakan karya duet manusia dan Tuhan. Karya-karya bisu yang seolah ingin bicara, mengatakan bahwa mereka seolah merupakan hasil dari suatu perikemanusiaan, sekalipun mereka buta.

Dari biru ke hitam, dari terang ke gelap, dari terbitnya sang surya sampai tenggelamnya. Dan kita temukan malam. Ketika langit penuh bintang dan bulan menunjukkan batang hidungnya, aku menyampaikan harapan. Dalam sunyi aku berkeluh, dalam gelap aku berkesah. Di malam yang dingin, aku merasa.

Itulah malam. Saat pertemuan memberi bahagia. Saat syukur terucap. Saat tatapan mata penuh cinta. Saat hati berpasrah. Saat insan rindu akan hadirnya embun. Saat keajaiban dan fantasi berpadu menjadi satu membuahkan buah-buah malam, impian dan harapan. Ya, itulah malam.

Perpisahan!

Tags

Sembari mendengar lagu dari Coldplay, See You Soon dari album The Blue Room, saya menulis artikel ini. Sesuai judul, artikel ini akan bercerita tentang perpisahan yang tentu saja sangat dekat dengan kehidupan kita. Mungkin artikel ini bernada mellow dan melankolis, sesuai dengan apa yang umumnya dirasakan ketika kita benar-benar menghadapi perpisahan.

Awalnya, semua dimulai dari sebuah pertemuan. Entah pertemuan yang singkat dan tak bermakna, ataupun pertemuan yang membekas menjadi memori abadi. Tetapi, semua sama, dimulai dari pertemuan. Dari pertemuan itu, kita tak pernah menyangka apa yang akan terjadi di keesokan harinya, dan kita cenderung tak pernah ingat bahwa setiap pertemuan pastilah ada perpisahan di akhir cerita. Continue reading »

Viva Recis Swara!

Hai semua! Kali ini saya ingin menulis artikel yang berhubungan dengan hobi-hobi yang saya tekuni. Mungkin bagi anda yang merupakan murid atau alumnus SMA Regina Pacis Bogor sudah sangat mengenal dengan ekstrakurikuler yang ‘katanya’ eksis ini. Yap, ekstrakurikuler ini bergerak di bidang paduan suara. Dan paduan suara telah menjadi salah satu minat dan hobi saya sejak masa-masa SMA.

Sejarah pasti mengenai paduan suara ini tidaklah saya ketahui. Tetapi, saya yakin bahwa paduan suara ini telah ada dalam kurun waktu yang cukup lama di SMA Regina Pacis Bogor. Biasanya, paduan suara ini mengisi bangku-bangku kosong yang disediakan di sebelah altar ketika perayaan ekaristi biasa ataupun perayaan ekaristi dalam rangka memperingati malam natal ataupun malam paskah yang diadakan di SMA Regina Pacis Bogor. Ekstrakurikuler ini mungkin menjadi terkenal karena banyaknya dispensasi dari pelajaran bagi anggota-anggotanya, biaya pendaftaran ekstrakurikuler yang paling murah, mungkin juga karena kualitasnya, atau sebagai tumbal pilihan ekstrakurikuler. Yang pasti, ekskul ini sangatlah unik.

Ketika saya pertama kali masuk SMA Regina Pacis Bogor dan melihat seluruh ekstrakurikuler yang ada, tidak pernah terpikirkan dalam benak saya bahwa saya akan memilih ekskul ini. Tetapi, entah merupakan suatu kecelakaan atau hasil dari pikiran pendek yang disertai dengan iming-iming tidak perlunya mengikuti pendalaman iman yang diadakan sekolah, saya akhirnya memilih ekskul ini. Sesungguhnya ketika bergabung, modal yang saya miliki hampir minim. Niat dan motivasi yang pas-pasan, suara yang tidaklah bagus, pengetahuan akan nada dan istilah-istilah serta simbol dalam musik sangatlah minim, rasa percaya diri yang ciut, dan buta not, itulah yang saya bawa untuk Viva Recis Swara saat itu.

Teringat ketika latihan pertama dahulu, melihat bahwa betapa luar biasanya jumlah murid yang ikut dari angkatan saya di dalam ekskul ini, saya saat itu menjadi semakin ciut. Betapa tidak, ruang serba guna di sekolah saya pun penuh dengan angkatan saya. Lagu pertama yang dilatih adalah “As The Deer”, dan saya berlatih bersama dengan anggota lainnya yang notabene belum begitu saya kenal. Sekalipun tiada rasa terasa di hati, tapi sepertinya sejak latihan pertama itulah saya mulai menyukai bidang ini. Kesukaan saya pada bidang ini sempat terbutakan karena diimingi oleh dispensasi untuk tugas pertama bagi angkatan saya. Dari kelas saya dahulu, kelas X-4, hanya ada satu murid yang mendapatkan dispensasi, sedangkan saya sangat tahu betul siapa saja anggota dari Viva Recis Swara di kelas saya. Setelah ditelusuri, ternyata memang dari sekelas hanyalah dia saja yang datang latihan hari Jum’at sebelumnya, dan saya mulai berpikir untuk rajin datang hanya karena dispensasi itu.

Ya, saya memang mendapatkan dispensasi untuk tugas pada perayaan ekaristi dalam rangka Hari Fransiskus di sekolah, dan saya mulai merasa bahwa dispensasi itu cukup menganggu pelajaran. Kali itu, kami yang bertugas memang butuh banyak latihan terutama karena adanya lagu “The Prayer of St Francis” yang saat itu menurut saya adalah lagu yang sangat sulit. Tetapi, sejak saat itulah saya menemukan kenyamanan dalam ekskul ini, tidak ada yang namanya senioritas dalam ekskul ini. Di sini, semua datang untuk bernyanyi bersama, memadu nada dan suara dalam satu alunan harmoni indah. Dan rasa nyaman yang timbul itu, adalah rasa nyaman yang sukai.

Waktu demi waktu pun berlalu, tugas malam natal yang memukau, lomba di Cassanova 2009 yang meraih peringkat pertama, tugas malam paskah yang meresap ke dalam jiwa, dan serangkaian tugas dan lomba lainnya. Semua itu berlalu dan menjadi memori indah dan unik untuk dikenang di lain waktu. Mengikuti latihan demi latihan, suara saya tetap pas-pasan, pengetahuan tetap minim, buta not masih tetap, namun niat dan motivasi telah berubah menjadi positif. Paduan suara ini memang tidak melihat kualitas suara, kemampuan dan pengetahuan semata, tetapi paduan suara ini terbuka untuk segala macam murid yang memiliki komitmen serta niat untuk latihan dan tugas. Di sini, kita belajar dan saling mengajar.

Tak terasa, menekuni Viva Recis Swara selama hampir 3 tahun, sekarang saya masih terngiang-ngiang ketika latihan pertama dimulai. Ketika lagu “As The Deer” dinyanyikan untuk pertama kali sepanjang saya menekuni Viva Recis Swara. Generasi baru telah bermunculan, dan mau tak mau saya harus pergi karena berakhirnya masa SMA saya, berakhir pula masa Viva Recis Swara saya. Sungguh, rasa syukur yang amat mendalam mendiami hati ini bisa bertemu dengan kawan-kawan baru di Viva Recis Swara dan bernyanyi bersama dengan suara-suara emas serta talenta-talenta yang luar biasa.

Banyak kisah yang tak diceritakan, banyak kenangan yang tak bagikan, biarlah semua itu terkubur dalam satu memori indah, untuk dikenang di hari esok.

Donor!

Tags

, , ,

So, 16 Juni 2011 kemarin saya dan salah satu teman saya, Rinaldi Kanta Suherman, akhirnya jadi mendonorkan darah untuk yang pertama kalinya ke Palang Merah Indonesia UTD Bogor. Ini mungkin bisa dibilang salah satu respon dari artikel yang saya terbitkan beberapa hari yang lalu, yang mengemukakan keinginan saya untuk mendonorkan darah di usia ke 17 ini.

Donor darah kemarin ini memang pengalaman pertama yang sangat menarik sejak saya berusia 17 tahun. Persiapan-persiapan dan rasa khawatir kerap kali muncul ketika memikirkan ‘jarum’ donor yang memang menyeramkan. Tidak hanya itu, ada pula rasa khawatir yang datang dari kondisi tubuh sendiri, entah tekanan darah yang rendah atau jumlah darah yang tergolong kurang dan kondisi fisik lainnya. Untungnya kemarin kami berdua lolos dari syarat administratif dan syarat fisikal untuk mendonorkan darah.

Continue reading »

The Art of Coffee

Tags

, ,

Belakangan ini gw nemuin satu kesukaan baru di bidang beverages. Yap, coffee. Semenjak minum kopi di salah satu kafe di Bogor, gw terkesima sama rasanya. Dan seperti biasa, jiwa kepo gw pun keluar. Saking keponya, sampe heboh ngeliatin yang namanya proses bikin kopi di kafe itu. Kalau dilihat-lihat terkesan sederhana, tapi rupanya ga semudah itu. Ini secara garis besarnya.

1. Put some roasted coffee beans into the coffee grinder
2. Grind the coffee until you get coffee in powder form
3. Boiling time, if you want to make espresso, then you’ll have to use espresso machine
4. Well, if you make espresso, you will get only the espresso itself. But, if you just boil the water and pour the hot water to the coffee powder, you’ll need a filter or you can just drink right away.

So simple huh? Menurut gw itu simpel banget. Buat yang ga ngerti, gw jelasin lagi deh. Biji kopi yang udah direbus istilahnya mah, nanti dimasukin ke alat buat ngegiling biji kopi itu jadi bubuk, nah bubuknyayang biasa kita pakai buat bikin kopi, kalau mau dibikin espresso, ya gampang tinggal masukin ke mesin espresso ntar juga keluar, tanpa ampas di gelas, kalo mau tubruk tinggal tuang air panas ke atas bubuknya jadi deh, kalo mau ngehindarin ampasnya, bisa pake dripper atau filter.

Yang susah sebenernya di bagian pengadaan alatnya. Coffee grinder elektrik itu harganya mahal, makanya gw sendiri prefer sama coffee grinder manual, alias pake tangan baru dibikin kayak tubruk masukin ke french press, kalo mau bikin espresso, mahal juga mesinnya. Tapi, seandainya kalian niat buat beli barang-barang itu dijamin ga akan nyesel deh serasa punya home-barista. Nah, bedanya kopi dengan proses yang mumet begini sama kopi instan yang pasti beda dari segi kualitas biji kopi, efeknya, estetika, alat, dan pastinya waktu. Kalo kita mau minum cappuccino kita harus bikin espresso dulu, terus bikin foam dari susu dulu, kalo pake kopi instan tinggal diseduh pake air panas.

Hmm, kalo mau nerusin the old way, kita juga pasti otomatis belajar milih biji kopi, dan kalo penasaran, bisa jadi kita pengen ngerebus sendiri biji kopi yang masih ijo. Yang pasti tiap biji kopi itu beda rasa, beda tingkat keasaman dan beda kualitas kafeinnya, itu semua tergantung dari cara kita roast coffee beans nantinya. Kalo mau nikmatin itu kopi begini tapi ga mau ribet dan ga mau kopi instan, cukup dateng ke kafe-kafe kopi aja.

Being 17th

Tags

, ,

Yap, I’m 17th now. Tanggal 4 Juni kemaren itu adalah tanggal yang udah lama gw tunggu. Gw bener-bener nungguin umur 17 tahun apalagi semenjak umur 15 tahun. Entah kenapa gw demen banget ngeliat orang dapet KTP dan gw pengen banget punya KTP, ngeliat ada KTP di dompet. Well, banyak banget yang bisa dilakuin kalo ada KTP.

Tapi, jadi 17 tahun bukan berarti hanya sekedar mendapatkan KTP. Jadi 17 tahun itu berarti gw udah harus bisa mandiri, udah harus bisa dewasa, udah harus punya mental, udah ga lenje lagi. Sekalipun kedewasaan ga ditunjukin dari angka yang nunjukin usia kita, tapi rasanya udah 17 tuh udah ga jaman lagi punya pikiran kayak ABG.

Hmm,  ga ada yang spesial di umur 17 tahun ini, ga ada perayaan spesial dan ga ada yang aneh-aneh. Cuma, tepat di umur 17 tahun, ngeliat betapa banyak orang yang ngucapin dari keluarga, teman semasa sekolah, bokap nyokapnya temen, guru, temen-temen yang lain, yang mahasiswa, yang udah kerja, yang bener-bener baru ketemu sekali itu, gw jadi terharu sangat terharu. Rupanya banyak banget orang-orang yang peduli sama gw, orang-orang yang sayang sama gw.

Well, talking about the day, gw ga ngapa-ngapain sebenernya untuk ngerayain ultah gw yang ke 17 di hari itu. Kebetulan memang gw lagi ada urusan dengan organisasi tercinta “PAKSINA” yang ngegagalin rencana semula gw buat naklukin Gunung Gede Pangrango di hari itu. Sebenernya agak sedih juga ga bisa ngerayain secara normal, no cakes, no gifts, no party, no pranks, but however I love the day. Walaupun cuma dengan dua setengah gelas bir atau sekitar 350 ml bir, heineken tentunya, tapi itu rasanya udah cukup untuk menuhin ritual perayaan ulang tahun. Terkesan melankolis? Engga juga, emang udah rencana gw buat berulang tahun yang ke 17 secara damai dan tentram jauh dari peradaban.

Being 17th without taking an action? No way. Di umur 17 tahun ini, gw udah berjanji mau donorin darah gw ke PMI, why? Gw tau gimana rasanya kalo ada yang butuh bantuan darah, tapi ga ada stok darah yang memadai. Gimana sih kalo kalian atau keluarga kalian dalam keadaan genting sangat membutuhkan sangat banyak darah dan rupanya ga ada darah yang cocok dalam jumlah banyak? Nah, makanya gw berniat mau donorin darah ke PMI, mudah-mudahan aja gw bisa lolos pemeriksaan kesehatan jadi gw bisa donorin darah gw.

Kayaknya, itu dulu deh tulisan gw tentang umur 17 tahun gw. See ya in the next post.

Kapal Rindu

Tags

, , ,

Menatap jauh hamparan padang ombak
lautan luas penuh kilau emas sang mentari
terbentang dari ufuk timur hingga barat

Angin bahari bertiup pelan
menyuarakan gema suara indahnya dunia
membisikkan lembut rahasia lautan luas

Dari atas buritan ini aku berseru
menyanyikan lagu para pelaut
memecah ombak melawan arus

Biarlah suaraku tinggi di atas kapal rindu
lampaui gunung susuri samudra
menuju hati yang ku puja

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 213 other followers